Friday, May 31, 2019

DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol)


Pengertian DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol)

Dynamic Host Configuration Protocol atau DHCP, adalah suatu protokol client atau server yang memiliki fungsi untuk membuat dan menyewakan alamat IP secara otomatis kepada komputer client atau host client baik itu secara massal atau per unit. Selain pembuatan alamat IP, DHCP ini juga mampu memberikan default gateway, DNS, hostname, dan domain name secara otomatis. Ada 2 arsitektur dalam menjalankan cara kerja DHCP ini, yakni DHCP server dan DHCP client.

Pengertian DHCP Server dan DHCP Client

DHCP server adalah suatu perangkat engine yang dapat menyediakan alamat IP, DNS, default gateway dan berbagai informasi TCP/IP lainnya untuk komputer client yang memintanya. Sistem operasi komputer yang menyediakan layanan DHCP server ini seperti Windows NT server, windows 2003 server, GNU atau linux.

DHCP client adalah suatu perangkat client yang mengoperasikan perangkat lunak DHCP client sehingga dapat tersinkronisasi dengan DHCP server untuk menerima alamat IP,DNS, dan default gateway secara otomatis. Komputer client biasanya terhubung dengan DHCP server seperti diantaranya windows NT workstation, windows 2000 professional, windows XP, windows vista, windows 7, windows 8, windows 10 dan linux.
Fungsi DHCP secara Umum :
  • DHCP digunakan oleh network administrator untuk mengelola jaringan komputer dan pengalamatan IP address secara otomatis.
  • DHCP digunakan untuk memberikan layanan penyawaan IP address secara otomatis kepada komputer client yang tersambung dengan server.
  • DHCP mempercepat kinerja komputer client dalam proses pengiriman atau pengolahan data.
  • DHCP server dapat memberikan layanan sewa ip address dinamis maupun statis.
  • DHCP mampu melayani penyewaan network dalam jumlah massal.

Cara Kerja DHCP Server dan Client

Sistem kerja DHCP server dalam menyewakan alamat IP kepada DHCP client ini memiliki beberapa tahap. Berikut ulasan cara kerja DHCP yang ada pada umumnya :
  • IP Least Request : Komputer client meminta alamat IP address ke DHCP server.
  • IP least Offer : DHCP server menawarkan alamat IP address yang tersedia kepada komputer client.
  • IP lease Selection : Komputer client menerima alamat IP address yang ditawarkan DHCP server dan melakukan penyewaan kepada DHCP server selama batas waktu tertentu.
  • IP Lease Acknowledge : DHCP server menerima penyewaan DHCP client dan memberikan alamat IP address serta memberikan subnet jaringan lainnya sebagai fasilitas tambahan. Kemudian DHCP client melakukan aktifasi/inisialisasi dengan mengikat alamat IP sehinggal alamat IP itu tidak dapat diambil oleh komputer client lainnya, selanjutnya komputer client bisa digunakan untuk bekerja pada jaringan DHCP server yang sudah dikonfigurasi.

DNS (Domain Name Server)

DNS (Domain Name System) server adalah server yang dapat melayani permintaan dari client untuk mengetahui alamat yang digunakan oleh sebuah domain. Jadi, misalnya Anda ingin mengakses twitter.com, maka server DNS akan mencari alamat dari twitter agar komputer dapat terhubung dengan twitter.

Biasanya untuk menggunakan Server DNS, Anda harus memasukkan alamatnya dari server tersebut dalam pengaturan IP address di komputer. Biasanya privider-provider penyedia jasa internet sudah menyediakan alamat dari DNS server yang bisa Anda gunakan.

Jika Anda menggunakan router, Anda bisa membuat DNS server sendiri. Selanjutnya alamat dari router tersebut bisa Anda gunakan sebagai DNS di komputer. Namun, yang tetap berperan dalam pencarian alamat IP tetaplah DNS server yang dimiliki oleh provider.

Ketika alamat IP dari sebuah website sudah bisa diketahui, komputer akan melakukan cache DNS. Ketika komputer Anda sudah mengetahui alamat dari sebuah website, komputer Anda akan mengingatnya. Sehingga, jika ingin mengaksesnya kembali tidak perlu lagi melakukan pencarian alamat IP website tersebut.
Fungsi DNS Server

DNS Server berfungsi sebagai sebuah database server yang menyimpan alamat IP yang digunakan untuk penamaan sebuah hostname. Jadi, ketika Anda mengetik google.com maka DNS server akan menerjemahkan ke alamat IP dan menghubungkan ke google.com akhirnya tampil google.com pada layar pencarian.


Cara Kerja DNS Server

Sebelum mengetahui cara kerja DNS server, perlu diketahui bahwa pengelola DNS terdiri dari 3 komponen, yaitu :

1. DNS resolver : adalah client yang merupakan komputer pengguna, pihak yang membuat permintaan DNS dari suatu program aplikasi

2. Recursive DNS server : adalah pihak yang melakukan pencarian melalui DNS berdasarkan permintaan resolver, kemudian memberikan jawaban pada resolver tersebut.

3. Authoritative DNS server : pihak yang memberikan respon setelah recursive melakukan pencarian. Respon dapat berupa sebuah jawaban maupun delegasi ke DNS server lainnya.

Dalam menjalankan tugasnya, DNS server memerlukan program client yang bernama resolver untuk menghubungkan setiap komputer user dengan server DNS. Program resolver yang dimaksud adalah web browser dan mail client. Jadi untuk terhubung ke server DNS, Anda perlu menginstall web browser atau mail client pada komputer. Secara garis besar, berikut adalah cara kerja DNS server:

1. DNS resolver melakukan pencarian alamat host pada file HOSTS. Jika alamat host yang dicari sudah ditemukan dan diberikan, maka proses selesai.
2. DNS resolver melakukan pencarian pada data cache yang sudah dibuat oleh resolver untuk menyimpan hasil permintaan sebelumnya. Bila ada, kemudian disimpan dalam data cache lalu hasilnya diberikan dan selesai.
3. DNS resolver melakukan pencarian pada alamat server DNS pertama yang telah ditentukan oleh pengguna.
4. Server DNS ditugaskan untuk mencari nama domain pada cache-nya.
5. Apabila nama domain yang dicari oleh server DNS tidak ditemukan, maka pencarian dilakukan dengan melihat file database (zones) yang dimiliki oleh server.
6. Apabila masih tidak ditemukan, pencarian dilakukan dengan menghubungi server DNS lain yang masih terkait dengan server yang dimaksud. Jika sudah ditemukan kemudian disimpan dalam cache lalu hasilnya diberikan ke client (melalui web browser).

Jadi, jika apa yang dicari di server DNS pertama tidak ditemukan. Pencarian dilanjutkan pada server DNS kedua dan seterusnya dengan 6 proses yang sama seperti di atas. Perlu dicatat, pencarian dari client ke sejumlah server DNS dikenal dengan istilah proses pencarian iteratif sedangkan proses pencarian domain antar server DNS dikenal dengan istilah pencarian rekursif.

Static Routing & Dynamic Routing

Static Routing

Static routing adalah protokol router yang menggunakan tabel routing secara statik yang dikonfigurasi oleh admnistrator jaringan. Routing static merupakan routing yang sederhana,namun routing static memiliki keunggulan dan kelemahan sob. Dalam merouting secara static kita harus memasukkan sendiri tabel routing, seperti (tujuan paket) (netmask tujuan) (rute).


Keunggulan Static Routing :

Kinerja prosesor lebih ringan
Keamanan jaringan lebih baik
Data hanya akan sampai ke tujuan paket saja


Kelemahan Static Routing :

Rute tidak bisa selalu update
Waktu konfigurasinya lama
Admin harus mengetahui semua informasi router
Rawan akan kesalahan saat memasukkan informasi router

Dynamic Routing

Dynamic routing adalah protokol router yang menggunakan dan memiliki tabel routing secara dinamis. Router akan melakukan update informasi dari router yang terhubung, sehingga router dapat terhubung secara baik.Dynamic Routing sendiri masih dibagi menjadi 5 yaitu :

RIP ( Routing Information Protocol ).
IGRP ( Internal Gateway Routing Protocol ).
EIGRP ( Enchanced Internal Gateway Routing Protocol ).
OSPF ( Open Shortest Path First ).
BGP ( Border Gateway Protocol ).
Selain itu, Dynamic routing memiliki keunggulan dan kelemahan sob,yaitu


Keunggulan Dynamic Routing :

Waktu konfigurasi lebih singkat
Router akan selalu memperbaruhi informasi rute
Tidak perlu mengetahui semua informasi router
Pekerjaan seorang admin akan lebih ringan

Kelemahan Dynamic Routing :

Kinerja router akan lebih berat
Keamanan jaringan kurang baik
Kecepatan transfer data lebih lama


Konsep IP Subnetting

Subnetting adalah proses membagi atau memecah sebuah network menjadi beberapa network yang lebih kecil atau yang sering di sebut subnet yang bertujuan untuk mempercepat jalur data.

Subnet mask adalah istilah yang mengacu kepada angka biner 32 bit yang digunakan untuk membedakan network ID dengan host ID. Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh network dentifier diset ke nilai 1. Semua yang ditujukan agar digunakan oleh host identifier diset ke nilai 0.

Representasi panjang prefiks dari sebuah subnet mask :
Cara yang digunakan untuk merepresentasikan sebuah subnet mask dengan menggunakan bit yang mendefinisikan network identifier sebagai sebuah network prefix dengan menggunakan notasi network prefix seperti tercantum dibawah ini.


Contoh : Network identifier dari kelas B 138.96.0.0 memiliki subnet mask 255.255.0.0 dapat direpresentasikan sebagai 138.96.0.0/16

Biasanya dalam perhitungan subnetting semuanya pasti mengenai seputar Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Broadcast Address.IEFT.

Perhitungan subnetting :

Contoh 1 :
Diketahui IP Addres = 192.168.31.2/27.Tentukan :
a. Subnetmask
b. Network Address
c. Broadcast Address
d. Rincian subnetnya

Jawaban :
a. Sunbetmask
/27=11111111.11111111.11111111.11100000
255 . 255 . 255 . 224

b. Network Address
Untuk menghitung network address dapat di cari dengan menggabungkan IP Address dan subnetmask dengan menggunakan logika AND, seperti berikut :
Ip address = 192.168.31.2
= 11000000.10101000.00011111.00000010
Netmask /27 = 11111111.11111111.11111111.11100000 AND
Net Address = 11000000.10101000.00011111.00000000
192 . 168 . 31 . 0

c. Broadcast Address
= 11000000.10101000.00011111.11111111
= 192 . 168 . 31 . 255

d. Rincian subnet
jumlah blok subnet yg terbentuk = 2^3 = 8 buah blok
rentang / panjang blok tiap net=32
1.192.168.31.0 – 192.168.31.31
2.192.168.31.32 – 192.168.31.63
3.192.168.31.64 – 192.168.31.95
4.192.168.31.96 – 192.168.31.127
5.192.168.31.128 – 192.168.31.159
6.192.168.31.160 – 192.168.31.191
7.192.168.31.192 – 192.168.31.223
8.192.168.31.224 – 192.168.31.255

Contoh 2 : SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C
Lakukan subnetting pada sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/27 !
Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /27 berarti 11111111.11111111.11111111.11100000 (255.255.255.224).
1. Jumlah Subnet = 2^x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 2^3 = 8 subnet.
2. Jumlah Host per Subnet = 2^y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. 2^5 – 2 = 30 Host.
3. Blok Subnet = 256 – nilai oktet terakhir subnet mask = 256 – 224 = 32 (kelipatan 32 hingga total 8 subnet/tidak melebihi 255). Subnet berikutnya adalah 32+32= 64 , lalu 64+32= 96 dst . Subnet lengkapnya 0, 32, 64, 96, 128, 160, 192, 224.
4. host dan broadcast yang valid?
Contoh 3 : SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B
Kita coba subnetting pada IP Address class B. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah CIDR /17 sampai /30 . Untuk CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C yang “dimainkan” di oktet keempat. Sedangkan CIDR /25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita “mainkan” di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.
Dari pada bingung, kita pakai contoh aja:
Kita coba hitung dengan subnetmask /17 sampai /24 dulu. Contoh NETWORK ADDRESS 172.16.0.0/17

Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti 11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0).
1. Jumlah Subnet = 2^x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet.
2. Jumlah Host per Subnet = 2^y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 2^14 – 2 = 16.382 host
3. Blok Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
4. Alamat host dan broadcast yang valid?
Kesimpulan :
Komputer yang dapat saling terhubung dengan komputer lain adalah komputer yang berada pada satu subnet mask. Apabila tedapat dua komputer yang berada pada subnet mask yang berbeda maka komputer tersebut tidak dapat terhubung. Semakin banyak subnetnya maka akan semakin sedikit jumlah hostnya. Proses subnet mask tersebut disebut subnetting.

Komputer dapat terhubung apabila :
– Net ID sama
– Host ID berbeda
– Broadcast sama
– Netmask sama

Public & Private IP Address

IP Private (IP Local)

Hanya digunakan pada jaringan LAN -Disebut private karena IP ini hanya bisa diakses dari jaringan local saja dan tidak bisa diakses melalui jaringan internet secara langsung tanpa bantuan router(NAT).IP private digunakan untuk jaringan local (LAN)agar sesama komputer dapat saling berkomunikasi,misalnya digunakan di jaringan sekolah,kantor,toko,dll . perangkat kantor /gadget seperti printer,komputer,laptop,smartdevice menggunakan ip private .Agar IP private dapat terhubung ke internet maka diperlukan router yang ditugaskan untuk nge NAT (agar semua IP local bisa terkoneksi ke internet dengan menggunakan IP Publik yang terkoneksi langsung ke Internet) , walau sudah terkoneksi ke internet IP private tetap tidak bisa diakses langsung dari jaringan internet, karena dari sudut pandang Internet, IP private mu terlihat seperti IP publik yang digunakan untuk NAT(karena kamu pake ip private dan menggunakan NAT IP publik untuk terkonek ke internet).

IP private persis seperti nomer telepon local/interkom dalam sebuah kantor ,nomer local intercom tidak bisa digunakan untuk menelepon ke luar (katakanlah internet) . Diperlukan Nomer telepon yang terdaftar ke telkom (katakanlah 1 IP publik) agar pengguna intercom bisa menelepon ke semua nomer yang ada di dunia (katakanlah Berinternet)

Dalam penggunaan nya IP private tidak perlu didaftarkan/registrasi ke pihak otoritas sebelum digunakan karena penggunaan IP private telah diatur,dialokasian dan distandarkan oleh IANA (Lembaga yang mengatur penggunaan dan pengalokasian IP) dalam terbitan RFC 1918 seperti tertera di bawah ini.
Alokasi IP v4 private sesuai standar internasional ketika Internet Engineering Task Force (IETF) telah menunjuk Internet Assigned Numbers Authority (IANA) untuk mengalokasikan IPv4 untuk jaringan private , yang diterbitkan dalam RFC 1918 sebagai berikut:

RFC1918 nameRentang IPTotal jumlah IPlargest CIDR block (subnet mask)host id sizemask bitsclassfuldescription[Note 1]
24-bit block10.0.0.0 – 10.255.255.25516,777,21610.0.0.0/8 (255.0.0.0)24 bits8 bitssingle class A network
20-bit block172.16.0.0 – 172.31.255.2551,048,576172.16.0.0/12 (255.240.0.0)20 bits12 bits16 contiguous class B networks
16-bit block192.168.0.0 – 192.168.255.25565,536192.168.0.0/16 (255.255.0.0)16 bits16 bits256 contiguous class C networks
sedangkan untuk IPv6 diterbitkan dalam RFC 4193
RFC 4193 BlockPrefix/LGlobal ID (random)Subnet IDNumber of addresses in subnet
48 bits16 bits64 bits
fd00::/8fdxx:xxxx:xxxxyyyy18,446,744,073,709,551,616

IP Publik

IP publik adalah IP yang digunakan dalam jaringan global Internet, karena kelas IP ini digunakan di dalam jaringan internet maka IP ini bisa diakses melalui jaringan internet secara langsung. Perangkat yang menggunakan IP public biasanya bertindak sebagai SERVER atau ROUTER , seperti web server,mailserver,DNS server,Game Server dan server yang lain dengan tujuan agar server bisa diakses dari jaringan manapun di dunia ini yang terkoneksi ke internet. Untuk dapat menggunakan IP public, suatu organisasi harus mendaftarkan diri agar mendapat alokasi IP public yang akan digunakan.IP public bisa didapat dari ISP (internet service provider).
Komputer dengan IP public memerlukan pengamanan extra karena sangat rentan terhadap serangan dari hacker yang ada dalam jaringan internet.Alokasi IP public sudah diatur dan di distribusikan berdasar negara, artinya kita bisa mengenali negara pengguna internet dari IP 36.79.151.75 adalah ip indonesia yang dimiliki oleh telkom speedy. untuk mengeceknya kita bisa menggunakan tool whois IP ,dengna kata lain penggunaan IP public diatur ketat oleh asosiai internet global dan setiap IP telah didaftarkan kepada pemegang yang sah dan hanya bisa dipakai oleh pemilik yang sah.

UNIVERSITAS KUNINGAN

Wednesday, May 29, 2019

TCP/IP dan OSI Model

Pemodelan ini berfungsi untuk memudahkan dalam mempelajari apa yg terjadi di jaringan, dan juga untuk para vendor pembuat network device , hal ini mejadi sangat penting karena dengan pemodelan ini tercipta suatu standardisasi atas protokol-protokol yang berjalan di atas suatu jaringan. Hasil akhirnya, device-device network dari vendor berbeda dapat berkomunikasi.



Model dari jaringan ada 2 pertama Protocol Model, yaitu TCP/IP Model, dan Reference Model, yaitu OSI Model. Sekarang saya akan membahas TCP/IP model dan OSI model, karena biar sesuai dengan judul.

TCP/IP (Transmision Control Protocol/Internet protocol) Model


TCP/IP model merupakan pemodelan dengan menggunakan protocol model, pada model ini dijelaskan apa saja yang terjadi pada tiap lapisan protocol. TCP/IP model memiliki 4 laye, yaitu:
Application Layer
Pada layer ini terjaci encoding dan juga dialog control. Application layer bertugas bagaimana data-data yang dikomunikasikan melalui jaringan ditampilkan kepada kepada user.
Transport layer
Pada layer ini, data yang akan ditransmisikan akan disegmentasi menjadi menjadi paket-paket yang lebih kecil, dan kemudian mengirimkannya ke Internetlayer. TCP bekerja pada layer ini.
Internet Layer
Pada layer ini segment dienkapsulasi menjadi paket dan kemudian dibungkus dengan alamat logikal IP. Internet layer juga terjadi penentuan jalur terbaik untuk menuju destination
Network Access
Paket yang masuk ke layer ini dienkapsulasi lagi dengan alamat fisik (physicel address) MAC address, dan kemudian di-encode kedalam meida dan ditransmisikan menuju destination.


OSI (Open Systems Interconnection) Model


Model ini didefiniskan oleh ISO. Pada model ini, terdapat 7 layer:
Application Layer
Layer ini memberikan interface kepada user sehingga user dapat”berkomunikasi dengan layer yang berada di bawahnya. Layer ini memiliki 2 bentuk:
network-aware application
aplikasi yang dapat berkomunikasi dengan layer-layer yang berada di bawahnya. contoh: web browser, e-mail client
application layer service
karena beberapa aplikasi tidak dapat secara langsung berkomunikasi dengan layer-layer yang ada di bawahnya, maka digunakanlah service ini. Tujuan dari service ini adalah agar tiap message yang ditransmisikan diterjemahkan dengan tepat.
Presentation Layer
3 fungsi layer ini adalah:
memastikan coding dan conversation pada layer application dapat diterjemahkan dari source device dengan aplikasi yang tepat
data yang dikompres, dapat di de-kompres oleh destination device
enkripsi dari data dapat ditransmisikan dan di-dekripsi ketika diterima di destination
Session Layer
Fungsi dari layer ini adalah untuk me-maintain dialog antara aplikasi source dan destination. Session layer menangani pertikaran informasi untuk menginisialisasi dialog, menjaganya tetap aktif dan untuk memulai kembali session yang telah terputus atau idle pada beberapa saat
Transport Layer
Melakuakn segmentasi, transfer dan reassemble data ketika terjadi komunikasi antara device. Menentukan ditujukan ke port mana. Pada layer ini yang bertugas adalah TCP dan UDP (User Datagram Protocol)
Network layer
Pada layer ini terjadi pengalamatan secara logikal. Lalu penentuan jalur terbaik (best path) juga terjadi pada layer ini
Data Link Layer
Layer ini terjadi pengalamatan berdasarkan alamat fisik (MAC address)
Physical Layer
Merubah frame dari Data Link layer menjadi bit-bit dan kemudiannya mengirimkan bit-bit tersebut ke media (kabel tembaga, fiber optic atau pun wireless) di jaringan.

Media Jaringan

Dalam suatu sistem jaringan ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan, salah satunya pemilihan penggunaan media. Media merupakan salah satu faktor yang mendukung, baik atau tidak baiknya suatu sistem jaringan tersebut. Pada suatu media jaringan terdapat beberapa jenis yang biasanya digunakan, antara lain kabel tembaga (copper), serat optik (fiber optic) dan jaringan tanpa kabel (wireless).
Kabel tembaga merupakan media jaringan yang paling banyak digunakan. Banyak tipe kabel tembaga yang tersedia di pasaran saat ini, masing-masing kabel memiliki kelebihan dan kekurangan. Serat kaca umumnya digunakan oleh jaringan yang membutuhkan bandwidth besar dan transmisi point-to-point. Dalam media serat optik, cahaya digunakan untuk memindahkan data melewati kaca tipis atau serat plastik (plastic  fiber). Penggunaan teknologi wireless membawa perubahan baru dalam media transmisi jaringan, dimana memiliki kelebihan dari segi portabilitas dan fleksibilitas.
— Copper media —
Coaxial Cable
Copper (tembaga) dipilih sebagai media karena tembaga merupakan salah satu konduktor yang baik dalam menghantarkan elektron. Coaxial kable harganya lebih murah dan teknologinya juga tidak asing lagi. Coaxial kable sudah digunakan selama puluhan tahun untuk berbagai jenis komunikasi data dan biasanya digunakan untuk kabel antena TV.

Untuk LAN, kabel Coaxial menawarkan beberapa keuntungan. Coaxial dapat digunakan untuk jarak yang jauh dibandingkan dengan Shielded Twisted Pair (STP) dan Unshielded Twisted Pair (UTP), selain itu juga tidak membutuhkan repeater. Coaxial kable memiliki ukuran yang bervariasi. Diameter yang terbesar ditujukan untuk penggunaan kabel backbone Ethernet karena secara histories memiliki panjang transmisi dan penolakan noise yang lebih besar. Kabel coaxial ini seringkali dikenal sebagai thicknet. Thicknet menggunakan spesifikasi Ethernet 10 base 5 (kecepatan 10 Mbps dengan jarak 500 meters), thinnet menggunakan 10 base 2 (kecepatan 10 Mbps dengan jarak 200 Meters), dan 10 Base-T (kecepatan 10Mbps dengan jenis kabel twisted pair).
Twisted Pair Cable
STP (Shield Twisted Pair)

Media ini banyak dipakai untuk kondisi khusus. Misalnya pada kapal laut, pengeboran lepas pantai. Sehingga instansi-instansi khusus saja yang membutuhkan media ini sebagai media transmisi. Kabel STP ini pemasanganya lebih rumit dari pada UTP dan relative lebih mahal. Kabel STP mempunyai hambatan 150 ohm.
Masing-masing kabel dibungkus oleh metallic foil. STP mengurangi gangguan elektronik dengan cara memilin kabel secara berpasangan (pair coupling). STP juga dapat mengurangi gangguan elektronik dari luar kabel, seperti electromagnetic interference (EMI) dan radio frequency interference (RFI).
UTP (Unshield Twisted Pair)
Kabel Unshielded twisted-pair (UTP) adalah empat pasangan kawat yang digunakan dalam berbagai jaringan. Masing-masing dari 8 kawat tembaga dalam kabel UTP ditutup oleh bahan insulator dan masing-masing kawat dipilin (twisted) satu sama lain. Disebut Unshielded karena kurang tahan terhadap interferensi elektromagnetik. Dan disebut twisted pair karena di dalamnya terdapat pasangan kabel yang disusun spiral atau saling berlilitan.
Fungsi dari twisted ini adalah untuk mengurangi degradasi sinyal EMI dan RFI. Untuk lebih mengurangi crosstalk di antara pasangan kabel UTP, jumlah twists di tiap pasang kawat bervariasi. Seperti kabel STP, kabel UTP harus mengikuti spesifikasi yang tepat mengenai banyaknya twist yang diijinkan.
Pemberian kategori 1/2/3/4/5/5e merupakan kategori spesifikasi untuk masing-masing kabel tembaga dan juga untuk jack. Masing-masing merupakan seri revisi atas kualitas kabel, kualitas pembungkusan kabel (isolator) dan juga untuk kualitas lilitan (twist) masing-masing pasang kabel. Selain itu juga untuk menentukan besaran frekuensi yang bisa lewat pada sarana kabel tersebut, dan juga kualitas isolator sehingga bisa mengurangi efek induksi antar kabel.
  • Category 1 (Cat1): Untuk koneksi suara / sambungan telepon
  • Category 2 (Cat2): Untuk protocol localtalk (Apple) dengan kecepatan data hingga 4 Mbps
  • Category 3 (Cat3): Untuk protocol ethernet dengan kecepatan data hingga 10 Mbps
  • Category 4 (Cat4): Untuk protocol 16 Mbps token ring (IBM) dengan kecepatan data hingga 20 Mbps
  • Category 5 (Cat5): Untuk protocol fast ethernet dengan kecepatan data hingga 100 Mbps
  • Category 5e (Cat5e): Untuk protocol fast ethernet dengan kecepatan data hingga 250 Mbps
Kabel Enhanced Category 5 (Cat5e) dan Category 5 (Cat5) merupakan kabel UTP yang paling populer yang banyak digunakan dalam jaringan berbasis teknologi Ethernet. Kabel UTP yang biasanya dijual dalam rol sepanjang 1.000 ft (sekitar 300 meter) menggunakan standar CAT 5, yaitu kabel dengan kemampuan transfer data sampai 100 Mbps dan hanya bisa bekerja pada jarak maksimum 100 meter (328 feet).
Keuntungan Kabel UTP :
  • Perangkat dan biaya investasinya murah.
  • Pemasangan kabelnya sederhana, tidak membutuhkan keakhlian yang tinggi.
  • Kecepatannya tinggi, 100Mbps.
Kerugian Kabel UTP :
  • Jarak maksimal-nya hanya 100 meter
  • Harus selalu menuju satu titik (untuk star configuration) sehingga banyak terjadi penumpukan kabel UTP di satu tempat.
  • UTP tidak tahan terhadap cuaca.
Pengkabelan Twisted Pair menggunakan sebuah modul Registered Jack (RJ) yang disebut RJ-45. Hal yang perlu diperhatikan adalah pastikan RJ-45 menghadap ke depan pada saat pemasangan kabel. Terdapat beberapa konsensus yang mengatur urutan pemasangan kabel, yaitu : 568A dan 568B. Semuanya merupakan konsensus yang menjelaskan kabel mana harus pergi ke pin yang mana.
Kabel straight
Beberapa fungsi dari kabel straight:
  • Untuk menghubungkan antara PC ke hub
  • Untuk menghubungkan antara PC ke switch
  • Untuk menghubungkan antara switch ke router
  • Untuk menghubungkan antara hub ke router
Pemasangan kebel straight harus benar, bila pada sumber suatu kabel pin1 maka pada tujuan harus diletakan pada pin1. Ilustratrasinya dapat dilihat dari gambar berikut:
Dari gambar diatas dapat dijelaskan jika pin1 tersebut berwarna putih-oranye maka pin1 yang merupakan tujuan harus berwarna putih-oranye juga.
Kabel cross over
Fungsi dari kabel cross over:
  • Untuk menghubungkan PC ke PC
  • Untuk menghubungkan hub ke hub
  • Untuk menghubungkan switch ke switch
  • Untuk menghubungkan hub ke switch
Cara pemasangan kabel cross over:
Kabel Roll Over
Kabel roll over ini biasanya digunakan untuk mengkonsole pada router, hub ataupun switch.
Pemasangan kabel roll over semua pin dibalik:
— Optical Media —
Fiber Optic 
Teknologi yang terbilang canggih dan mahal membuat media komunikasi fiber optik menjadi pilihan utama bagi pengguna yang menginginkan kualitas prima dalam berkomunikasi. Kabel fiber optic merupakan kabel jaringan yang dapat mentransmisi cahaya. Dibandingkan dengan jenis kabel lainnya, kabel ini lebih mahal. Namun, fiber optic memiliki jangkauan yang lebih jauh dari 550 meter sampai ratusan kilometer, tahan terhadap interferensi elektromagnetik dan dapat mengirim data pada kecepatan yang lebih tinggi dari jenis kabel lainnya. Kabel fiber optic tidak membawa sinyal elektrik, seperti kabel lainnya yang menggunakan kabel tembaga. Sebagai gantinya, sinyal yang mewakili bit tersebut diubah ke bentuk cahaya.
  • Core : kaca tipis dimana cahaya berjalan.
  • Cladding: kaca yang mengelilingi core yang merefleksikan cahaya untuk kembali ke dalam core.
  • Coating or Buffer: pembungkus plastik yang melindungi fiber dari kerusakan dan gangguan.
Single Mode
Media ini banyak dipakai untuk transmisi serat optic yang membutuhkan jarak tempuh yang jauh antar aktif device. Misalnya digunakan oleh ISP (penyedia jasa internet) yang mempunyai jalur khusus ke-gateway-gateway dunia. Media ini menawarkan kecepatan yang tinggi seperti bandwith fiber optic pada umumnya, tetapi dengan kapasitas jarak antar benua. Sekitar 20% dari traffic internet di dilayani oleh fiber optic jenis ini. Pengerjaan media jenis ini sangat sulit dan membutuhkan keahlian khusus oleh orang-orang yang bersertifikasi (sebaiknya). Selain harus dipertimbangkan kesulitan untuk menyambung Single Mode Fiber apabila karena sesuatu hal putus ditengah jalan. Kabel single mode dapat menjangkau jarak yang lebih jauh dan hanya mengirim satu sinyal pada satu waktu. Kabel single mode dapat menjangkau ratusan kilometer.
Single mode dilihat dari segi strukturalnya merupakan teknologi fiber optik yang bekerja menggunakan inti (core) serat fiber yang berukuran sangat kecil yang diameternya berkisar 8 sampai 10 mikrometer. Dengan ukuran core fiber yang sedemikian kecil, sinar yang mampu dilewatkannya hanyalah satu mode sinar saja. Sinar yang dapat dilewatkan hanyalah sinar dengan panjang gelombang 1310 atau 1550 nanometer.
Multi Mode
Kabel multimode mengirim sinyal yang berbeda pada saat yang bersamaan, mengirim data pada sudut refraksi yang berbeda pada saat yang bersamaan. Kabel multimode biasanya hanya mencapai 550 meter atau kurang.
Teknologi ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang diakibatkan dari banyaknya jumlah sinyal cahaya yang berada di dalam media fiber optik. Sinar yang berada di dalamnya sudah pasti lebih dari satu buah. Dilihat dari faktor properti sistem transmisinya, multi mode fiber optic merupakan teknologi transmisi data melalui media serat optik dengan menggunakan beberapa buah indeks cahaya di dalamya. Cahaya yang dibawanya tersebut akan mengalami pemantulan berkali-kali hingga sampai di tujuan akhirnya.
Sinyal cahaya dalam teknologi Multi mode fiber optic dapat dihasilkan hingga 100 mode cahaya. Banyaknya mode yang dapat dihasilkan oleh teknologi ini bergantung dari besar kecilnya ukuran core fiber-nya dan sebuah parameter. Ukuran core kabel Multi mode secara umum adalah berkisar antara 50 sampai dengan 100 mikrometer.
— Wireless Media —
Berikut ini adalah standard yang umum digunakan bagi wireless network.
  1. 802.11: Pada tahun 1997, sebuah lembaga independen bernama IEEE membuat spesifikasi/standar WLAN pertama yang diberi kode 802.11. Peralatan yang sesuai standar 802.11 dapat bekerja pada frekuensi 2,4GHz, dan kecepatan transfer data (throughput) teoritis maksimal 2Mbps.
  2. 802.11b: Pada bulan Juli 1999, IEEE kembali mengeluarkan spesifikasi baru bernama 802.11b. Kecepatan transfer data teoritis maksimal yang dapat dicapai adalah 11 Mbps. Kecepatan tranfer data sebesar ini sebanding dengan Ethernet tradisional (IEEE 802.3 10Mbps atau 10Base-T). Peralatan yang menggunakan standar 802.11b juga bekerja pada frekuensi 2,4Ghz. Salah satu kekurangan peralatan wireless yang bekerja pada frekuensi ini adalah kemungkinan terjadinya interferensi dengan cordless phone, microwave oven, atau peralatan lain yang menggunakan gelombang radio pada frekuensi sama.
  3. 802.11a: Pada saat hampir bersamaan, IEEE membuat spesifikasi 802.11a yang menggunakan teknik berbeda. Frekuensi yang digunakan 5Ghz, dan mendukung kecepatan transfer data teoritis maksimal sampai 54Mbps. Gelombang radio yang dipancarkan oleh peralatan 802.11a relatif sukar menembus dinding atau penghalang lainnya. Jarak jangkau gelombang radio relatif lebih pendek dibandingkan 802.11b. Secara teknis, 802.11b tidak kompatibel dengan 802.11a. Namun saat ini cukup banyak pabrik hardware yang membuat peralatan yang mendukung kedua standar tersebut.
  4. 802.11g: Pada tahun 2002, IEEE membuat spesifikasi baru yang dapat menggabungkan kelebihan 802.11b dan 802.11a. Spesifikasi yang diberi kode 802.11g ini bekerja pada frekuensi 2,4Ghz dengan kecepatan transfer data teoritis maksimal 54Mbps. Peralatan 802.11g kompatibel dengan 802.11b, sehingga dapat saling dipertukarkan. Misalkan saja sebuah komputer yang menggunakan kartu jaringan 802.11g dapat memanfaatkan access point 802.11b, dan sebaliknya.
  5. 802.11n: Pada tahun 2006, 802.11n dikembangkan dengan menggabungkan teknologi 802.11b, 802.11g. Teknologi yang diusung dikenal dengan istilah MIMO (Multiple Input Multiple Output) merupakan teknologi Wi-Fi terbaru. MIMO dibuat berdasarkan spesifikasi Pre-802.11n. Kata ”Pre-” menyatakan “Prestandard versions of 802.11n”. MIMO menawarkan peningkatan throughput, keunggulan reabilitas, dan peningkatan jumlah klien yg terkoneksi. Daya tembus MIMO terhadap penghalang lebih baik, selain itu jangkauannya lebih luas sehingga Anda dapat menempatkan laptop atau klien Wi-Fi sesuka hati. Access Point MIMO dapat menjangkau berbagai perlatan Wi-Fi yg ada disetiap sudut ruangan. Secara teknis MIMO lebih unggul dibandingkan saudara tuanya 802.11a/b/g. Access Point MIMO dapat mengenali gelombang radio yang dipancarkan oleh adapter Wi-Fi 802.11a/b/g. MIMO mendukung kompatibilitas mundur dengan 802.11 a/b/g. Peralatan Wi-Fi MIMO dapat menghasilkan kecepatan transfer data sebesar 108Mbps.
Jaringan tanpa kabel sebenarnya tidak sesulit sistem jaringan kabel, bahkan lebih mudah. Sistem jaringan WiFi (Wireless Fidelity) tidak memerlukan penghubung jaringan komputer antara komputer, dengan jaringan tanpa kabel hanya dibutuhkan ruang atau space dimana jarak jangkau jaringan dibatasi kekuatan pancaran signal radio dari masing masing komputer.
Keuntungan pada sistem access point (AP mode):
  1. Untuk sistem AP dengan melayani banyak PC tentu lebih mudah pengaturan dan komputer client dapat mengetahui bahwa disuatu ruang ada sebuah hardware atau komputer yang memancarkan signal Access Point untuk masuk kedalam sebuah network .
  2. Bila mengunakan hardware khusus, maka tidak diperlukan sebuah PC berjalan 24 jam untuk melayani network. Banyak hardware Access Point yang dihubungkan ke sebuah Hub atau sebuah jaringan LAN. Dan komputer pemakai WIFI dapat masuk kedalam sebuah jaringan network.